Sebuah Cerita Dewasa 18+
Senin, 26 Januari 2015
Dientotin Pembokat
Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak slamet, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Slamet pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar s***** Pak Slamet sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku dari dulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku. Cerita Birahi 2014: Dientotin Pembokat | “Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja” pamitnya. Setelah Pak Slamet meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Slamet memang telaten merawat vila ***** Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..) 20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan. Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Warjo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku. “Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!” ancamnya Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku “Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!” katanya sambil matanya menatapi dadaku “Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!” kataku sewot. Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di s***** Mengetahui Pak Slamet sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke s***** Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi). “Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!” tantangku. “Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh” jawabnya seraya melepas baju lusuhnya. Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Budi, tukang air yang pernah main denganku Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya. “Eenghh.. terus Tar.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut Warjo yang sedang mengisap payudaraku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Warjo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah warjo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku. Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya. “Gua ga tahan lagi jo, sini gua emut yang punya lu” kataku. Si Warjo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut. Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan. “Eemmpp.. emmphh.. nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya. Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Slamet muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku. “Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan” katanya terbata-bata. Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya. “Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!” godaku. Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang. Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya. “Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?” Sambil tangannya terus meremasi payudaraku. Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan “Wah, Pak Slamet sama majikan sendiri aja malu-malu!” seru si Warjo yang memperhatikan Pak Slamet agak grogi menikmati oral seks-ku. Warjo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Warjo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Slamet makin bersemangat. Rupanya aku telah membuat Pak Slamet ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Warjo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Slamet menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Slamet. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Warjo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan. Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. “Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?” tanya Pak Slamet lembut. Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Warjo duduk di sebelah kiriku dan Pak Slamet di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok. “Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng” kata Pak Slamet mengambil posisi berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Warjo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku. “Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan. Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh. “Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin” ceracaunya. “Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim” kataku dalam hati. Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Slamet memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya. Goyangan kami terhenti sejenak ketika Warjo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Slamet. Warjo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana “Aduuh.. pelan-pelan Jo, sakit tau.. aww!” rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Warjo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Warjo malah makin buas menggenjotku. Pak Slamet melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Slamet erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Slamet. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ***** Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Slamet, dan Warjo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap. Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir “Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi. Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus.
Janda Penjaga Warung
Sebuah
kisah ngentot atau cerita ML seorang pemuda dengan seorang tante yang menjanda
dan haus seks. Mereka bersetubuh kala warung sudah tutup. Bagaimana petualangan
seks keduanya? Silahkan simak kisahnya berikut ini!
Namaku
Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal
di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah
perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan
gadis-gadisnya yang cantik & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang
kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di
depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap
dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula,
lombok, roti, permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung
sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya
kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita
(tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang tahun
ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima,
terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh
Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.
Seperti
biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan
TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus
singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi
setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam),
aku jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya..?, Ah.., aku coba saja
kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup, tapi kok
sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.
“Tante..,
Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi
seperti ini, kali saja lupa nutup warung.
Ah
kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Tante Ita?”.
“Oh
ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.
Yang
keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada,
jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya
baru selesai mandi juga habis keramas.
“Oh..,
maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter,
lho Dik Krisna mana?
“O..,
Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas
Otong Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.
“Tidak
apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus
handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat
sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju
kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas
dadanya berarti Tante Ita tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.
Malam
gini kok belum tutup Tante..?
“Iya
Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?
“Oh
biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke
dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.
“Wah
ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita.., sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung
sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.
“Trimakasih
lho Mas Otong..?”.
“Sama-sama..”kataku.
“Tante
saya lewat belakang saja”.
Saat
aku dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk
tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya
terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja.
Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.
“Mas
Otong.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata
tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh,
saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang
sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut
halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri
sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau
melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi
menyentuh tante.
“Mas
Otong.., burungnya bangun ya..?”.
“Iya
Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum
lagi, jadi nafsu Saya Tante..”.
“Ah
tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar..”.
“Eh
ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah..?”.
“Ah
belum terpikir Tante..”.
“Yah..,
kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami
Tante.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang
Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada
yang lebih menyiksa Mas Otong.. kebutuhan batin..”.
“Oh ya
Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.
“Yah..,
Tante tahan-tahan saja..”.
Kasihan..,
batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin
Tante Ita.., ough.., pikiranku tambah usil.
Waktu
itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga
memperhatikan.
“Mas
Otong burungnya masih bangun ya..?”.
Aku
cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba
burungku.
“Wow
besar juga burungmu, Mas Otong.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya
belom..?”.
“Belum..!!”,
jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan
yang sudah lama tidak pernah kurasakan.
“Mas..,
boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat aku
menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang
tertinggal plus kaos oblong.
“Oh..,
sampe’ keluar gini Mas..?”.
“Iya
emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku
sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati
kocokan tangan Tante Ita.
“Wah..,
Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet suami
kaya Mas Otong..”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh.., nikmat
sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa
sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Ita sudah melepaskan lagi
handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu karena burungku ternyata sudah
digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.
“Ough..,
Tante.., nikmat Tante.., ough..”, desahku sambil bersandar memegangi dinding
rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan
buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot..,
ough.., seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak
yang dua itu.., ough.., sesshh.
Aku
kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku sambil
berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik sambil nungging di
atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.
“Mas
Otong.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.
Tanpa
basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini
indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak
percaya kalau Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya,
harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap
rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan
lidahku ke lubang vaginanya.
“Ough
Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
“Terus
Mas.., Maas..”, aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan
lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin
membuatku gila.
Kemudian
Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk
ke atas.
“Ayo
Mas Otong.., Tante sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu sudah
pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Otong.., burung Mas Otong kalau bangun
dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal
burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit
rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku
langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.
“Aughh..”,
teriak tante.
“Kenapa
Tante..?”, tanyaku kaget.
“Udahlah
Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya,
sempit sekali.
“Tante..,
sempit sekali Tante.?”.
“Tidak
apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian.., ntar
juga nikmat..”.
Yah..,
aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku amblas..,
Tante Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.
“Augh..,
Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.
Begitu
juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya
oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali
ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai membasahi
badanku dan badan Tante Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku,
mencakarku.
“Oughh
Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Otong..”, katanya sambil merem-melek.
“Kayaknya
ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Tante Ita.
“Mas
Otong sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita telentang
kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik
susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya
yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin mendesah, “Ough.., Mas..”, tiba-tiba
Tante Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
“Oughh
Mas.., aku keluar lagi..”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin
licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang
rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante
Ita.
“Tante..,
Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.
“Terrsseerraah..”,
desah Tante Ita. Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada
sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng,
badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya
spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih aku gerakkan badanku
rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, dia gigit dadaku.
“Mas
Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu Mas”.
Aku
kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang
telentang di atas meja.
“Mas
Otong.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau
sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak digedor Tante
jadi marah..”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya
yang masih nampak bengkak.
“Tante
ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum
genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak
berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya
ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Ita, aku di
panggil tante.
“Rokoknya
sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan,
padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud
perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian
kemarin malam.
Di Atas Ranjang
Kamar
VIP tempat Hendra dirawat mulai terlihat membosankan bagi Alya, dia ingin
segera pulang dan membawa suaminya meninggalkan kamar rumah sakit yang berbau
obat ini untuk kembali menjalani hidup bersama di rumah sendiri. Ibu muda yang
cantik itu duduk termenung di samping jendela kamar sambil melamun,
pandangannya tak berpindah dari halaman rumah sakit yang asri dan dipenuhi
pepohonan menghijau, walaupun hari sudah gelap tapi pemandangan taman tetap
terlihat karena nyala terang lampu hias di taman. Malam mulai menggelayut dan
gelap menyelimuti hari. Pandangan Alya beralih dari satu lampu ke lampu yang
lain, setelah bosan ia beralih memperhatikan pepohonan tinggi yang menunduk
seakan tertidur lelap di tengah malam yang sunyi. Pikiran Alya termenung lebih
jauh lagi, seperti apa kehidupan mereka selanjutnya dengan keadaan Mas Hendra
yang seperti ini? Separuh tubuhnya sudah lumpuh, masa penyembuhannya akan
berlangsung lama, belum lagi pengaruh psikisnya pada Mas Hendra dan keluarga
mereka. Pekerjaan Mas Hendra memang masih bisa dikerjakan dari rumah melalui
internet bahkan perusahaan Mas Hendra sudah mengatakan opsi pekerjaan tersebut
bisa dikerjakan oleh Mas Hendra selama sakitnya. Mereka tidak akan memecat
Hendra, melainkan tetap memperkerjakannya walaupun tetap berada di rumah karena
kemampuan Hendra memang tidak ada duanya dan dia sangat dibutuhkan untuk tetap
bekerja. Walaupun begitu, akan tetap butuh waktu bagi mereka semua untuk
menyesuaikan diri. Alya menatap keluar halaman dengan pandangan yang makin
mengabur. Bagaimana dengan dia sendiri? Kuatkah dia menghadapi semua masalah
demi masalah yang makin lama makin besar dan meremukkan seluruh jiwaraganya?
Kuatkah dia untuk terus berada di samping suaminya sementara hidupnya terus
berada di bawah ancaman pria tua busuk seperti Bejo Suharso? Keluhan pelan
keluar dari mulut Alya, wanita cantik itu hanya bisa berharap ini semua segera
berakhir. Terdengar ketukan pelan dari pintu, Alya melirik ke jam dinding,
siapa gerangan yang mengetuk jam segini? Jam bezuk sudah lewat dan Alya tidak
menunggu siapapun termasuk Dodit, Anis ataupun Lidya sementara Opi sudah
dititipkan pada Bu Bejo. Siapa yang malam ini datang? Susterkah? Jarang sekali
suster masuk ke dalam ruangan jam segini, biasanya mereka datang hampir tengah
malam. “Halo… halo… kamu sendirian ya sayang? Bagus! Ayo kita
bersenang-senang!” Alya hampir menjerit ketika sosok gemuk Bejo Suharso masuk
ke dalam kamar sambil menyeringai. Dengan bantuan tangannya sendiri, Alya
membekap mulut agar tidak menjerit dan menimbulkan kegaduhan. Pak Bejo datang
seorang diri, pria tua itu bahkan dengan berani menggeser kursi yang ada untuk
memalang pintu kamar, siapapun yang hendak masuk akan kesulitan membuka pintu
kecuali kursi itu disingkirkan. Alya meringkuk ketakutan di pojok ruangan.
Berulang kali wanita cantik itu melirik ke arah suaminya yang masih lelap.
Kepada siapa Alya harus minta pertolongan? Keringat deras mengalir di dahinya.
“Ayo… ayo… tidak usah takut. Ini aku, sayang. Kekasihmu tercinta.” Bejo
berjalan tegap ke arah istri Hendra yang pucat pasi dan ketakutan, kangen
sekali rasanya dia pada si molek ini. Alya menggeleng. “Jangan mendekat! Jangan
mendekat!!” Alya bangkit dan mencoba melarikan diri, tapi tangan besar Pak Bejo
lebih cekatan dari gerakan Alya yang panik. Dengan satu sentakan, Alya dilempar
kembali ke pembaringan di samping tempat tidur Hendra yang masih terlelap. Di kamar
VIP itu, memang disediakan satu pembaringan untuk tamu penunggu pasien. “Jika
kau mau semua ini berakhir, diam dan layani aku.” bisik Pak Bejo mengancam.
Lidya tidak bisa tidur malam ini, saat makan malam tadi Andi mengatakan kalau
dia harus pergi lagi selama seminggu ke luar kota. Suaminya itu mengatakan
kalau ternyata ada beberapa pekerjaan kantor yang belum tuntas diselesaikan
saat dia ke dinas di sana seminggu yang lalu. Karena pekerjaan itu sifatnya
mendesak, besok Andi harus segera terbang lagi kesana dan membereskannya.
Sebenarnya bukan perpisahan selama seminggu dengan Andi yang membebani batin
Lidya, melainkan rasa takutnya kembali berdua saja dengan ayah mertuanya yang
cabul. Pantas saja Pak Hasan memaksa Lidya menjadi budaknya seminggu ini, ternyata
mertuanya itu sudah lebih dahulu tahu kalau Andi akan pergi dinas lagi selama
seminggu. Membayangkan senyum ejekan menggaris di bibir Pak Hasan, ingin
rasanya Lidya menamparnya. Menjijikkan sekali! Orang yang tadinya dianut
sebagai pengganti orang tua, malah menjebloskannya ke lembah hina. “Mass…,”
Lidya menggelayut manja di pundak suaminya yang baru saja naik ke ranjang. “Apa
perginya tidak bisa ditunda? Mas Andi kan baru saja pulang, belum sampai
seminggu di rumah sudah pergi lagi.” “Maaf sayang, tidak bisa, aku tetap harus
pergi besok. Kamu tahu sendiri kan ini sudah masuk jadwal rutin akhir tahun
anggaran, pekerjaan di daerah menumpuk sementara teman kerjaku malah cuti
karena istrinya melahirkan, tidak ada orang lain lagi selain aku yang bisa mengerjakannya,
padahal rencananya bulan depan bos besar akan datang dari Singapore, reportnya
harus segera selesai dalam minggu ini.” bisik Andi yang sudah mulai memejamkan
mata, dia lelah sekali hari ini. “Terus aku bagaimana?” desah Lidya lagi. “Kamu
bagaimana gimana? Kamu ya di rumah aja, aku kan cuma seminggu, nggak lama, lagi
pula ada Bapak di rumah. Dia bisa menemani kamu selama aku pergi, kamu tidak
perlu takut kesepian, kalau butuh jalan-jalan tolong temani Bapak
keliling-keliling cari kontrakan baru. Siapa tahu bapak bosan di rumah terus.”
Lidya merengut, kalau diberi kesempatan dan diperbolehkan, dia justru ingin
menghajar mertuanya yang dengan biadab telah memperkosa dan mempermalukannya
itu, tapi Lidya tentu saja tidak mungkin melakukannya. “Aku kan masih kangen,”
rayu Lidya manja sambil menciumi bagian belakang leher suaminya. “baru beberapa
hari kamu di rumah… malam ini… kamu… kita…” Andi yang tertidur sambil
membelakangi Lidya geli diciumi oleh istrinya, diapun membalikkan badan. “Aduh
sayang, jangan sekarang ya… aku capek sekali.” Setelah mendorong Lidya agar
menjauh sedikit, Andi kembali berbalik dan terlelap. Lidya mencibir dengan
kesal. “Apa mau Pak Bejo?” tanya Alya geram. Dia menyimpan kekhawatiran pada
tatapan mesum lelaki tua itu. “Buka resleting celanaku!” perintah Pak Bejo.
“Sinting! Gila! Pak Bejo pikir ini dimana? Ini rumah sakit! Bagaimana nanti
kalau ada orang masuk?” Alya mengeluarkan keringat dingin karena tegang.
“Lagipula aku tidak mau melakukannya di depan Mas Hendra!!” tambah Alya. Si
cantik itu mencoba mengelak dengan segala cara namun pergelangan tangannya
dipegang erat oleh Pak Bejo. Alya buru-buru mencari cara lain untuk meloloskan
diri dari situasi gawat ini. “Aku akan layani Pak Bejo kalau kita sudah sampai
rumah nanti! Tidak di sini, tidak sekarang! Pokoknya aku tidak mau!” “Aku tidak
peduli. Kamu pikir selama ini aku tidak mengamati kegiatan di rumah sakit ini?
Aku lebih pintar dari yang kau kira, sayang. Suster tidak akan datang ke kamar
ini dalam waktu seperempat jam ke depan dan sekarang bukan jam bezuk, jadi
tidak akan ada orang lain di sini kecuali kita berdua, Mbak Alyaku yang cantik
jelita.” Pak Bejo terkekeh digdaya, “Coba lihat suamimu itu. Kasihan sekali kan
kalau sampai arah infusnya berbalik? Darahnya akan tersedot ke atas… hehehe.
Kau sadar tidak, mudah sekali kalau aku ingin menyakiti orang-orang yang kamu
cintai kapanpun aku mau. Kalau tidak ingin Mas Hendra kucelakai sampai mampus
di tempat ini juga, sebaiknya kau segera buka resleting celanaku dan sedot kontolku
sampai aku puas!” Alya menatap Pak Bejo tak percaya, ia memutar otak mencoba
mencari jalan keluar dari situasi yang sedang ia hadapi, tapi memang tidak ada
jalan lain yang aman baginya kecuali melayani kemauan bajingan tua ini.
Keselamatan Mas Hendra lebih penting dari martabatnya yang sudah tak ada
harganya lagi. Alya akhirnya menurut, ia jongkok ke bawah, membuka kancing lalu
menarik turun kait resleting celana Pak Bejo. Setelah dibuka, Alya menarik
turun celana panjang berikut celana dalam yang dikenakan oleh pria tua itu
sampai ke betis. Kemaluan Pak Bejo yang besar dan panjang meloncat keluar dari
celana dalam yang ia kenakan dan menampar pipi mulus Alya. Ingin sekali rasanya
Alya menendang kantung kemaluan Pak Bejo dan melarikan diri dari ruangan ini,
tapi melihat Hendra yang lelap tak berdaya Alya tahu ia harus tunduk dan
menuruti semua kemauan Pak Bejo. pria tua itu menjambak rambut Alya dan
menariknya ke belakang, wajah Alya menengadah ke atas dan bertatapan mata
langsung dengan mata jalang Pak Bejo. Wajah takluk Alya membuat Pak Bejo
tersenyum puas. Dengan jari-jari nakalnya, pria tua itu memainkan rambut indah
Alya lalu dengan kasar dia mendorong wajah Alya mendekati kemaluannya. “Sedot.”
Bisik Pak Bejo, suaranya pelan namun tegas. Alya tahu, dia harus segera
melayani kemauan Pak Bejo saat ini juga atau pria tua yang jahat itu akan
menghajarnya seperti beberapa waktu yang lalu. Pak Bejo memang tidak
berperasaan, dia menyuruh Alya mengoral kemaluannya tepat di hadapan sang suami
yang masih lelap, belum lagi kalau ada suster yang datang. Benar-benar nekat
orang tua tak tahu malu ini. Mereka berada cukup dekat dengan ranjang penunggu
pasien tempat Alya biasa tidur menemani Hendra. “Kamu mau ketahuan orang?
Mumpung sepi, cepat sedot.” Gertak Pak Bejo sekali lagi. Alya melirik ke arah
Hendra yang masih terlelap, lalu menatap sengit mata Pak Bejo. Alya
mencondongkan badan ke depan dan membuka mulutnya perlahan. Si cantik itu
menelan batang kemaluan Pak Bejo dan memainkan lidah di sekitar ujung gundulnya.
Alya memegang kontol Pak Bejo dengan lembut dan mengocoknya perlahan. Si cantik
itu mendorong Pak Bejo agar tidur terlentang di ranjang penunggu pasien dan ia
mulai menjilati seluruh batang kemaluan lelaki tua itu, mulai dari kantungnya,
lalu batang, sampai ke atas. Jilatan lidah Alya membuat Pak Bejo terangsang dan
belingsatan, enak sekali rasanya. Nafas Pak Bejo kian berat, ia sangat menyukai
perasaan berkuasa seperti ini. Ia merasa seperti seorang raja yang sedang
dilayani oleh selirnya. Saat ini pria tua itu tahu apapun yang ia perintahkan
pasti akan dilaksanakan ibu muda yang seksi itu. Membayangkan wanita secantik
Alya melakukan hal-hal yang memalukan membuat Pak Bejo terangsang. Kontolnya
langsung ngaceng, bahkan akan meledak mengeluarkan air mani seandainya tidak
ditahan-tahannya. Lama kelamaan, seluruh batang pelir Pak Bejo sudah tertelan
oleh Alya, kepalanya naik turun bersama gerakan mulutnya mengocok kemaluan sang
lelaki tua dari ujung gundul sampai kantung kemaluan. Pak Bejo memiringkan
kepala Alya dan menyibakkan rambut yang menutup wajah cantiknya. Ia ingin
melihat langsung kontolnya keluar masuk bibir mungil wanita secantik Alya,
pemandangan indah itu membuatnya semakin terangsang. Benar saja, hanya beberapa
detik melihat Alya mengoral kemaluannya, Pak Bejo sudah siap mencapai klimaks.
Pria tua itu mengencangkan cengkramannya pada rambut Alya dan menggerakkan
kepala wanita jelita itu seraya memompakan penisnya ke dalam mulut Alya. Si
cantik itu memberontak sesaat, tapi tatapan galak Pak Bejo meluruhkan niatnya,
nyali Alya menciut dan Pak Bejo pun membentaknya galak. “Ayo dikulum terus!
Kenapa berhenti?” Walau kesal dan jengkel tapi Alya tak melawan sedikitpun. Si
cantik itu melumat kontol Pak Bejo seiring gerakan sang pria tua menggiling
kemaluannya memasuki tenggorokan Alya dengan gerakan yang sangat cepat
sampai-sampai si cantik itu tak sempat menarik nafas. Lama kelamaan sodokannya
makin cepat dan pendek sementara nafas Pak Bejo terdengar mendengus-dengus.
Alya yakin pria tua itu pasti akan segera mencapai puncak kenikmatan. “Mainkan
kantungku,” lenguh Pak Bejo sambil menggemeretakkan gigi. Pria itu masih terus
menyodokkan kemaluannya ke mulut Alya. Begitu jari-jari lembut Alya menyentuh
kantung kemaluannya, Pak Bejo tidak kuat lagi, ia langsung mencapai klimaks
dengan cepat. Diiringi lenguhan panjang, Pak Bejo menyemprotkan cairan
cintanya. Pria tua itu memaksa Alya menerima semua semprotan pejuh dengan
mulutnya, tangan Pak Bejo bahkan memegang kepala Alya erat-erat agar si cantik
itu menelan semua semprotan air maninya tanpa ada yang tersisa. “Telan!” desak
Pak Bejo melihat Alya enggan menerima air maninya, perintah Pak Bejo terpaksa
dituruti oleh ibu muda yang cantik itu karena takut dan ia ingin sesegera
mungkin mengakhiri sesi oral seks dengan orang tua bejat itu. Merasakan
penisnya dikulum dan pejuhnya ditelan mentah-mentah oleh Alya membuat Pak Bejo
sangat puas. Setelah penis Pak Bejo menembakkan peluru pejuhnya yang terakhir,
pria tua itu meringis dan menarik penisnya dari kuluman Alya. Beberapa tetes
air mani kental ikut terbawa saat ia menarik kemaluannya. “Bersihkan kontolku.”
Perintah pria tua itu. Dengan hati-hati Alya menjilat dan menelan setiap tetes
pejuh yang membasahi kemaluan Pak Bejo. Bibir si cantik itu belepotan air mani
sang pria tua, Alya memang sengaja tidak menelan seluruh cairan yang keluar
dari kemaluan Pak Bejo karena jijik, pejuh putih kental menetes dari sela-sela
mulutnya dan jatuh di atas lantai. Pak Bejo menepuk-nepuk kepala Alya dan
mengenakan kembali celananya dengan penuh kepuasan. “Memang enak seponganmu,
Mbak Alya,” kata Pak Bejo. “mungkin Mas Hendra bisa sembuh dari lumpuhnya dan
bangun dari tempat tidur kalau kau sepong terus tiap hari.” Sambil tertawa
terbahak-bahak Pak Bejo melangkah pergi meninggalkan kamar tempat Hendra
dirawat, Alya menatap kepergian orang tua bejat itu dengan penuh kebencian.
Beberapa orang suster yang sedang duduk beristirahat di ruang administrasi
menatap heran langkah jumawa dan senyum sumringah Pak Bejo meninggalkan
bangsal, baru kali ini ada orang yang tertawa terbahak-bahak usai mengunjungi
pasien yang sakit parah, keterlaluan sekali orang ini. Sepeninggal Pak Bejo,
Alya membersihkan lantai yang basah oleh air mani dengan tissue dan mencuci
mulutnya di kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Alya yang telah masuk ke kamar
mandi, setetes air mata mengalir di pipi Hendra. Andi memasuk-masukkan tasnya
ke dalam mobil, bersiap hendak berangkat. Matahari pagi terasa jauh lebih panas
dari biasanya, walaupun enggan meninggalkan istrinya yang jelita sendirian di
rumah lagi, Andi tetap harus berangkat. “Yakin nih, Mas? Bakal seminggu lagi?”
tanya Lidya sambil memendam rasa kecewa. Belum tuntas rasanya ia melepaskan
rasa rindu dan mencari perlindungan pada suaminya, ternyata kini Andi harus
pergi lagi. “Apa nggak bisa dipercepat pulangnya?” “Maunya sih begitu, sayang.
Tapi ini kan perintah langsung dari atasan, aku tidak bisa bilang tidak. Aku
coba lihat nanti berapa banyak pekerjaan yang numpuk, kalau memang bisa pulang
lebih awal, aku pasti pulang.” Andi tersenyum lembut melihat istrinya cemberut,
ia tahu Lidya kecewa. Dengan penuh rasa sayang dikecupnya bibir sang istri.
“Aku janji, kalau pulang nanti akan aku bawakan oleh-oleh makanan kesukaanmu.”
Lidya masih tetap cemberut. Tiba-tiba saja Pak Hasan datang dan dengan santai
merangkul pundak Lidya. Wanita cantik itu tentu terkejut sekali,
berani-beraninya Pak Hasan merangkulnya di depan Andi! “Jangan khawatir, Bapak
pasti akan menjaga istrimu baik-baik, Ndi.” “Iya, Pak. Untung saja ada Bapak di
sini, jadi Lidya tidak akan kesepian.” Kata Andi. Dasar bodoh, amuk batin
Lidya, andai saja suaminya itu tahu, kalau selama ini justru ayahnya yang telah
memperlakukan Lidya seperti seorang pelacur jalanan. Dengan gerakan sesopan
mungkin, Lidya menurunkan tangan Pak Hasan yang tadinya merangkul pundaknya.
“Aku pergi dulu yah, sayang.” Pamit Andi, “Pak, titip Lidya ya.” “Iya.
Hati-hati di jalan.” Pak Hasan menyeringai. Ia sangat bahagia diberi titipan
yang sangat berharga oleh anaknya itu, seorang wanita jelita yang seksi yang
bisa ia tiduri kapan saja ia mau. Lidya terdiam saat mobil Andi berangkat
meninggalkan rumah. Ketika mobil itu menghilang dari pandangan, tangan Pak
Hasan langsung beraksi, meremas-remas pantat bulat Lidya. Si cantik itu
menghardik mertuanya dan melangkah masuk ke rumah dengan sewot. Pak Hasan
meringis penuh kemenangan. Dina mengejap-kejapkan matanya yang masih mengantuk.
Semalam suntuk ia tak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Pak
Pram dan Pak Bambang telah menyewakan satu kamar hotel mewah yang semalam ia
gunakan untuk beristirahat, tapi Dina tetap tak bisa tidur, ia ingin tahu
bagaimana kabar anak-anaknya, bagaimana kabar Alya dan Lidya – adiknya dan
bagaimana kabar Anton suaminya. Proposal yang diajukan Pak Bambang adalah pisau
bermata ganda yang bisa membuat mereka sekeluarga hidup berkecukupan walaupun
hidup terpisah tapi juga akan membelenggu hidupnya sebagai istri seorang idiot
pewaris kekayaan seorang konglomerat yang sudah sangat tua. Apa yang akan
dilakukannya? Langkah kaki Dina terasa berat menyusuri lorong hotel mewah
menuju kamar pertemuan yang berada di ujung. Dalam hati kecilnya, Dina merasa
dirinya bagaikan seorang narapidana yang hendak dihukum mati. Ia memang
bersalah, ia sudah bersedia melacurkan diri untuk menyelamatkan kelangsungan
hidup keluarga, ia berani menanggung resiko sebagai wanita jalang yang mau
melayani kemauan binal orang-orang tua tak tahu diri. Ia merasa bersalah,
karena telah mengkhianati janji pernikahan dengan Mas Anton. Seandainya hari ini
Anton memutuskan untuk memberikannya pada Pak Bambang… sepertinya… Dina rela…
Wanita cantik itu mengambil tissue dari kantong bajunya dan menghapus airmata
yang menetes perlahan membasahi pipi. Beberapa orang penjaga melirik ke arah
Dina dengan pandangan meremehkan, bibir mereka tersungging menghina dan
merendahkan, menambah pedih sakit di dalam hatinya. Langkah kaki yang terasa
berat membuat pinggul Dina bergerak pelan, bagi para penjaga, gerakan pantat
Dina bagaikan suguhan pertunjukkan yang mengasyikkan, seandainya wanita ini
tidak lagi diinginkan oleh pimpinan mereka, ingin rasanya mereka mencicipi
tubuhnya yang indah. Pintu besar ruang pertemuan dibuka lebar, beberapa orang
menemani Dina masuk ke dalam. Di dalam ruangan, terdapat sebuah meja besar dengan
kursi yang saling berhadapan. Di sisi jauh, Pak Bambang, Pak Pramono, beberapa
orang pegawai pemerintah berjabatan tinggi serta beberapa orang asisten sudah
sedari tadi menunggu Kedatangannya. Sementara di kursi yang menghadap ke arah
mereka, duduklah suami Dina dengan kepala menunduk tanpa berani diangkat.
Dengan wajah lesu Dina duduk di kursi yang telah disediakan di samping
suaminya. Pak Bambang dan Pak Pramono duduk dengan tenang sementara asistennya
mengeluarkan beberapa lembar berkas dan meletakkannya di hadapan Anton dan
Dina. Sepasang suami istri itu tidak saling memandang dan terdiam membisu,
perasaan keduanya kacau balau. “Ini adalah berkas-berkas yang perlu
ditanda-tangani seandai kalian berdua bersedia menerima penawaran dari Pak
Bambang. Dengan menandatangani surat-surat ini, kalian berdua akan resmi
bercerai secara sah dan legal.” Kata asisten Pak Bambang. Dina dan Anton
menatap tak percaya surat-surat yang berada di hadapan mereka. Bagaimana
mungkin Pak Bambang dan Pak Pramono bisa menyediakan surat cerai bagi mereka
dalam waktu yang sangat singkat? Anton menatap geram kedua orang tua yang
sangat kaya itu dan yakin, surat ini bisa turun tentunya dengan menyogok
petugas pemerintah yang mengurusnya. Ada uang ada barang. Bagi orang sekaya Pak
Bambang, mudah sekali mendapatkan surat-surat yang diinginkan, apalagi hanya
surat cerai bagi kaum menengah sepertinya. Mereka bahkan tidak perlu menghadiri
sidang perceraian atau apapun, hanya menandatangani surat-surat ini, pernikahan
mereka sudah berakhir. Urusan legalitas dan administrasi sudah ditangani oleh
dua pengusaha kaya yang memeras mereka itu, segala sesuatunya benar-benar sudah
disiapkan. Tubuh Dina gemetar ketakutan melihat surat-surat di hadapannya
sementara Anton membolak-balik kertas dengan geram. Benar-benar sudah lengkap
semua yang dibutuhkan, tidak ada celah sedikitpun bagi Anton dan Dina untuk
berkelit. “Keputusan sekarang berada di tangan kalian berdua.” Kata Pak Pram.
Anton menatap Dina dengan pandangan sedih yang tak terkatakan, Dina menatap
suaminya kembali dan menggelengkan kepala. Anton menunduk sedih tanpa mampu
mengucap kata-kata. Tangannya memegang pena dengan gemetar, Anton bingung,
perasaannya bimbang, apa yang harus ia lakukan? Manakah keputusan yang terbaik
bagi semuanya?
Langganan:
Komentar (Atom)
